I Love You To the Moon and Back
Teruntuk orang-orang yang aku sayang. Ada begitu banyak
kata “cinta” yang tidak bisa diungkapkan. Begitu banyak ungkapan “maaf” yang
belum sanggup kukatakan. "Terima kasih" ini tak kunjung bisa
kuutarakan. Pada diriku sendiri yang pengecut juga curang, semoga semua ini
tersampaikan.
*****
Dari kecil hingga besar aku diajarkan bahwa dunia itu
kejam. Namun, bagaimana bisa aku mengerti karena dari dulu dekapan orang tua
menutupi segalanya. Mereka rela melindungi aku dari ancaman dunia. Memberikan
aku senyum tulus, meski, iya, aku tau itu palsu karena alasan terbesarnya
adalah mereka hanya ingin aku bahagia sebagaimana mestinya.
Kadang aku iri kenapa bisa sehebat itu mereka. Kenapa aku
tidak bisa memberi apa-apa? Nilaiku jelek, mereka hanya menasehati tanpa
menghakimi. Aku gagal, mereka selalu bisa mengeratkan pelukan. Dihadapan semua
orang namaku selalu mereka sanjung bagai raja nan agung. Padahal, apa? Aku
tidak pernah memberi yang isimewa.
Dulu, kukira dewasa itu menyenangkan, ternyata sungguh banyak aturan. Termasuk ketika aku harus ditarik menjauh dari tempat Ayah dan Ibu. Ah, Ayah, Ibu mengucapkan namamu saja hatiku sudah cukup sesak
menahan rindu.
Dunia memang tidak bersahabat, banyak lakon di dalamnya dengan berbagai sifat. Ada yang membicarakan orang terang-terangan atau terlihat baik hanya di depan. Menaruh harapan kepada seseorang, tapi dijatuhkan. Ingin hidup tentram dan sejahtera, tapi perlu perjalanan yang panjang nan melelahkan.
Dunia memang tidak bersahabat, banyak lakon di dalamnya dengan berbagai sifat. Ada yang membicarakan orang terang-terangan atau terlihat baik hanya di depan. Menaruh harapan kepada seseorang, tapi dijatuhkan. Ingin hidup tentram dan sejahtera, tapi perlu perjalanan yang panjang nan melelahkan.
Sesekali aku merasa tidak ada yang bisa mengerti diri selain kita sendiri. Butuh sandaran kedua orang tua ataupun keluarga, tapi tidak ingin melihat mereka bersedih hati. Aku ingin mengeluh, berteriak kencang agar angin tau
sebagaimana sesaknya hatiku. Namun, ternyata aku salah. Masih ada sahabat yang
tidak mau melihatku jatuh. Mereka siap mendengar kekacauan pikiranku. Meski kadang menjengkelkan, meski kadang memalukan,
tapi dia selalu ada sebagai pengganti keluarga. Ada, tepat di hadapan ketika dunia terasa begitu menjengkelkan. Aku lupa sahabat selalu punya cara membuatku tertawa walau kadang tidak jelas arah bicaranya.
Cinta mereka besar sekali untuk diriku yang justru memuji perasaan dalam hati.
Tuhan, sungguh baik sekali garis jalan hidupku ini.
Sampai titik ini bagaimana bisa aku meninggalkan perintahmu, jika yang kudapat
selalu keberuntungan juga ketenangan hati. Maaf, maaf, maaf. Badanku dingin
panas mengingat dosa dalam diri, lalai selalu saja menyertai, padahal yang
Tuhan berikan adalah seluruh isi bumi.
Sekarang, diriku sendiri jangan terlalu larut dalam
penyesalan, belajarlah untuk bisa menghargai hari-hari dunia agar tidak
sia-sia. Buatlah bangga orang-orang yang berada di sisimu, bagaimana pun caranya. Bahagia tidak akan tercipta jika bukan kita yang memulainya. Maka,
banyak-banyaklah bersyukur. Buat semua kecacatan dan keunggulan dalam diri
sebagai pembelajaran dini. Agar tidak tersesat dalam imajinasi sendiri.
Komentar
Posting Komentar