Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

I Love You To the Moon and Back

Teruntuk orang-orang yang aku sayang. Ada begitu banyak kata “cinta” yang tidak bisa diungkapkan. Begitu banyak ungkapan “maaf” yang belum sanggup kukatakan. "Terima kasih" ini tak kunjung bisa kuutarakan. Pada diriku sendiri yang pengecut juga curang, semoga semua ini tersampaikan. ***** Dari kecil hingga besar aku diajarkan bahwa dunia itu kejam. Namun, bagaimana bisa aku mengerti karena dari dulu dekapan orang tua menutupi segalanya. Mereka rela melindungi aku dari ancaman dunia. Memberikan aku senyum tulus, meski, iya, aku tau itu palsu karena alasan terbesarnya adalah mereka hanya ingin aku bahagia se b agaimana mestinya.  Kadang aku iri kenapa bisa sehebat itu mereka. Kenapa aku tidak bisa memberi apa-apa? Nilaiku jelek, mereka hanya menasehati tanpa menghakimi. Aku gagal, mereka selalu bisa mengeratkan pelukan. Dihadapan semua orang namaku selalu mereka sanjung bagai raja nan agung. Padahal, apa? Aku tidak pernah memberi yang isimewa.   ...

Kesalahan Arti

Untuk hari-hari yang tak lagi sama. Pada persandingan yang terpisah kaca. Perpisahan, sebagai pembatas antara kita. Hatiku dijatuhkan pada orang yang tidak pernah terpikirkan. Detak jantung yang tak beraturan, obrolan sampai malam, hingga tidak sadar tujuan hidup menjadi ternomer dua kan. Mulai saat itu hari-hariku terlibat pada pertengkaran, untuk selanjutnya baikan. Obrolan kita terlalu seru untuk sekedar kutinggalkan. Namamu disebut seseorang aku yang malah gemetaran. Bayanganmu saja baru terlihat di kejauhan aku mulai gelisah tak karuan. Dimulai saat remaja, perasaan membuncah itu tercipta. Melibatkan dua orang untuk saling menjaga. Seperti waktu itu, katamu, aku adalah segalanya. Kamu menomer satukanku di atas siapa saja. Lambat laun arti diriku hilang tanpa perantara. Keindahan hubungan kita ditarik menghilang saat itu juga. Tanpa kejelasan apa-apa, dinding pembatas antara kita tercipta. Kukira kamu benar-benar tulus apa adanya. Di saat aku terlanjur berja...

Pengkhianatan

Perkenalkan aku manusia yang mudah bosan. Lalu kamu datang dengan senyum ramah penuh kehangatan. Semenjak ada kamu hari-hariku tidak lagi terasa jemu. Malam hari kita habiskan dengan harapan besok bisa bertemu. Pembicaraan kita selalu saja terselip perihal rindu. Sejauh itu nyaman adalah tali penyatu. Lambat laun aku sadar ini bukan sekedar keterikatan, ini lebih dari sekedar nyaman. Kesadaran atas perasaan membuatku berani menyatakan apa yang selama ini mengganjal hati juga pikiran. "Aku mencintaimu" kucoba untuk menjelaskan. Tanpa disangka ternyata kamu sudah lama menantikan kalimat sedehana yang rumit diutarakan. Iya, sesingkat itu aku dan kamu menjadi satu. Kamu tau, saat itu adalah momen aku merasa sangat bahagia. Kita bukan lagi teman biasa. Sekarang, kita terikat oleh hubungan di mana aku bisa menyebut kamu adalah milikku. "Aku rindu," katamu. Lalu aku mencoba menenangkan. Besoknya kita bertemu sesuai perjanjian. Semenyenangkan itu hubungan ...

Hai, Teman

Masih ingatkah kisah ini, kisah dimana kita belum saling sapa apalagi bertukar cerita hingga akhirnya menjelma layaknya saudara?  Bukan kebetulan, kita memang sudah ditakdirkan menjadi satu kesatuan.  Tidak perlu repot-repot menyembuyikan sesuatu karena aku sudah hapal betul mimik wajahmu. Suaramu saja seperti telah melekat di telingaku. Terasa setiap saat kamu ada di sampingku.  Sekarang resapi lebih dalam, hampir seluruh kisah hidupku kamu tau bukan? Bagaimana tidak,  setiap hari kita berbagi kisah tidak peduli langsung bertatap ataupun melalui chatan. Kita memang selucu itu, tidak pernah kehabisan bahan bahkan sesuatu tidak masuk akal saja kita bicarakan.  Lalu... tiba-tiba aku dibuat sadar sebentar lagi hadirmu akan ditarik menghilang. Jarak sedang menanti kita di pelabuhan. Siap meramu untuk menciptakan canggung yang mendalam.   Maka yakinkan diri sendiri tanpa harus membuat janji.  Tanamkan saja dalam hati masing-masing bahwa perpi...