Pengkhianatan
Perkenalkan aku manusia yang mudah bosan.
Lalu kamu datang dengan senyum ramah penuh kehangatan.
Kamu tau, saat itu adalah momen aku merasa sangat bahagia.
Kita bukan lagi teman biasa.
Sekarang, kita terikat oleh hubungan di mana aku bisa menyebut kamu adalah milikku.
"Aku rindu," katamu.
Lalu aku mencoba menenangkan.
Besoknya kita bertemu sesuai perjanjian.
Semenyenangkan itu hubungan kita hingga kamu aku jadi kan segalanya.
Kujadikan kamu satu-satunya orang untuk berkeluh kesah.
Sehari saja aku tidak mendapat kabarmu, aku resah.
Hari terus berlalu, kusadari hubungan kita tidak lagi seperti dulu.
Pesan-pesanku mulai kamu acuhkan, sudah jarang aku mendapat balasan.
Bukan lagi sekali, dua kali ataupun tiga kali, ini terjadi berkali-kali.
Apa ada yang salah?
Apa mungkin kamu sudah bosan denganku atau ada orang baru?
Tidak, kamu tidak mungkin setega itu -- menggantikan posisiku di hatimu.
Hah, sayangnya aku yang terlalu lugu ini mudah sekali ditipu.
Ternyata benar, dengan segala sikap lembut kamu menipuku.
Kamu hanya membutuhkan pelampiasan selama masa penantian.
Pelampiasan itu adalah aku.
Sedang yang kamu tunggu-tunggu adalah orang lain yang tengah tersenyum puas melihat kekalahanku.
Lalu kamu datang dengan senyum ramah penuh kehangatan.
Semenjak ada kamu hari-hariku tidak lagi terasa jemu.
Malam hari kita habiskan dengan harapan besok bisa bertemu.
Pembicaraan kita selalu saja terselip perihal rindu.
Sejauh itu nyaman adalah tali penyatu.
Lambat laun aku sadar ini bukan sekedar keterikatan, ini lebih dari sekedar nyaman.
Kesadaran atas perasaan membuatku berani menyatakan apa yang selama ini mengganjal hati juga pikiran.
"Aku mencintaimu" kucoba untuk menjelaskan.
Malam hari kita habiskan dengan harapan besok bisa bertemu.
Pembicaraan kita selalu saja terselip perihal rindu.
Sejauh itu nyaman adalah tali penyatu.
Lambat laun aku sadar ini bukan sekedar keterikatan, ini lebih dari sekedar nyaman.
Kesadaran atas perasaan membuatku berani menyatakan apa yang selama ini mengganjal hati juga pikiran.
"Aku mencintaimu" kucoba untuk menjelaskan.
Tanpa disangka ternyata kamu sudah lama menantikan kalimat sedehana yang rumit diutarakan.
Iya, sesingkat itu aku dan kamu menjadi satu.
Kamu tau, saat itu adalah momen aku merasa sangat bahagia.
Kita bukan lagi teman biasa.
Sekarang, kita terikat oleh hubungan di mana aku bisa menyebut kamu adalah milikku.
"Aku rindu," katamu.
Lalu aku mencoba menenangkan.
Besoknya kita bertemu sesuai perjanjian.
Semenyenangkan itu hubungan kita hingga kamu aku jadi kan segalanya.
Kujadikan kamu satu-satunya orang untuk berkeluh kesah.
Sehari saja aku tidak mendapat kabarmu, aku resah.
Hari terus berlalu, kusadari hubungan kita tidak lagi seperti dulu.
Pesan-pesanku mulai kamu acuhkan, sudah jarang aku mendapat balasan.
Bukan lagi sekali, dua kali ataupun tiga kali, ini terjadi berkali-kali.
Apa ada yang salah?
Apa mungkin kamu sudah bosan denganku atau ada orang baru?
Tidak, kamu tidak mungkin setega itu -- menggantikan posisiku di hatimu.
Hah, sayangnya aku yang terlalu lugu ini mudah sekali ditipu.
Ternyata benar, dengan segala sikap lembut kamu menipuku.
Selama ini bagimu aku hanya seorang bocah penuh tingkah.
Cintaku hanya kamu anggap sebagai bualan yang tak pernah sudah.
Kesetiaanku kamu anggap sampah.
Cintaku hanya kamu anggap sebagai bualan yang tak pernah sudah.
Kesetiaanku kamu anggap sampah.
Kamu hanya membutuhkan pelampiasan selama masa penantian.
Pelampiasan itu adalah aku.
Sedang yang kamu tunggu-tunggu adalah orang lain yang tengah tersenyum puas melihat kekalahanku.
Baguslah kamu menunjukkan wajah asli yang berarti aku tidak perlu repot-repot melayani seorang penipu.
Orang setulus aku tidak cocok bersanding denganmu.
Selamat menikmati hubungan beracun kalian berdua, aku di sini tetap menunggu....
Kira-kira kalian akan mengakhiri hubungan seperti apa?
Kamu apa dia yang akan tersakiti, atau justru dua-duanya?
Entahlah, kita lihat saja.
Jika pada akhirnya tebakanku terjadi, jangan pernah mencoba kembali.
Aku tidak pernah memungut yang telah pergi.
Karena sekali saja aku kecewa, rasa simpatiku pun ikut sirna.
Komentar
Posting Komentar