Keluh

Sudah, aku ingin tamat saja.
Atau bisakah aku pindah tatasurya?

Ada banyak persoalan di umur pendewasaan.
Seperti diberi cinta, tapi dikhianati saat itu juga.
Keyakinan yang dinodai, orang-orang mudah sekali datang dan pergi.
Anak tangga menuju sukses pun terlihat panjang sekali.

Kebanggaanku telah dipatahkan.
Laraku disimpan rapat-rapat, dihiruakan.
Diriku sudah melarat belas kasihan.
Telingaku terlalu sering mendengar cemoohan.
Hari-hari membosankan menjadi makanan.
Dunia dominan perselisihan yang ribut mengejar jabatan.
Hingga pertemanan menjelma sebagai ajang pamer kekuasaan, kerabat sudah hilang keharmonisan.
Walau esok terlihat hangat kebersamaan, sukmaku tidak mau merasakan.

Rasanya ingin sekali mengulang usia balita.
Memangnya ada apa?
Aku memiliki senyum sekilau berlian, orang-orang tak membiarkan aku lepas dari pelukan.
Sekarang, lihatlah!
Cahaya tawaku tak seterang dulu, kepergianku tak lagi meninggalkan haru.
Aku bukan lagi balita hingga Ayah dan Ibu repot ini itu.
Aku sekarang sudah besar dengan perasaan membuncah tak karuan.

Mata kumenilik sang surya yang mengorbit pada bentala.
Tiba-tiba, ragaku memberontak.
Hatiku menjerit meminta bebas, tapi tak kunjung lepas.

Tinta hitamku gerakkan sebagai balas dendam.
Di tengah malam yang hampa aku keluhkan semuanya, meminta gemuruh dalam dada hilang secara percuma.
Pernah aku membagi ke seseorang, tapi berakhir kepergunjingan.
Hingga semua cerita mengenai apa saja aku berititik sebesar jagat raya.

Semuak itu aku dengan dunia.
Namun, meski nadir tetap ada secuil redup harapan.
Berharap kelak ada yang mengerti perasaan selain Tuhan.
Aku tak mau lagi terperangkap, lalu terjebak.
Tak mau lagi terpuruk, lalu ambruk.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hancur

Pemanfaatan Teknologi dalam Dunia Pendidikan

I Love You To the Moon and Back